Tahun itu, 7 Januari 2014 yang lalu. hidupku sebenarnya sedang baik-baik saja. Pekerjaan nyaman. Lingkungan mendukung. Dan yang lebih penting, aku berada di bidang yang benar-benar aku kuasai: riset. Semua terlihat… ideal. Tapi entah kenapa, di balik semua itu, ada ruang kecil dalam diriku yang terus terasa kosong. Seperti ada mimpi lama yang belum sempat aku tuntaskan. Aku masih ingat hari ketika akhirnya aku memutuskan untuk berhenti. Bukan karena aku tidak mencintai pekerjaanku. Justru sebaliknya, aku menyukainya. Tapi ada panggilan lain yang lebih dalam. Keinginan untuk melanjutkan studi, untuk pergi lebih jauh, untuk suatu hari bisa sampai ke Turki, tempat yang sejak lama hanya hidup dalam imajinasiku. Keputusan itu tidak rasional bagi banyak orang. Meninggalkan sesuatu yang pasti, untuk sesuatu yang bahkan belum jelas bentuknya. Tapi saat itu, aku memilih untuk percaya bahwa hidup tidak selalu harus dipahami di awal. Kadang, ia baru masuk akal setelah dijalani. Langkah itu membawaku kembali ke satu titik sederhana: Pare. Bukan sebagai pelarian, tapi sebagai persiapan. Hari-hari di sana terasa berbeda dari sebelumnya. Aku tidak lagi datang sebagai seseorang yang “harus berhasil”. Aku datang sebagai seseorang yang sedang mencari arah. Dan mungkin karena itu, aku menjadi lebih jujur pada diriku sendiri. Tapi hidup… selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Rencana ke Turki itu perlahan menjauh. Bukan hilang tapi seperti ditunda oleh sesuatu yang lebih dekat, lebih nyata. Aku dipertemukan dengan peluang yang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya. Sebuah ide sederhana. Sebuah ide sederhana. Tentang tempat. Tentang ruang. Tentang buku. Tentang musik, tentunya Tentang mimpi. Dan dari situ, lahirlah sesuatu yang bahkan tidak pernah ada dalam rencanaku: Cafe Jendela Mimpi. Sebuah tempat kecil, dengan harapan yang tidak kecil. Dengan satu kalimat yang terus aku pegang: “Cafe Inspirasi Indonesia.” Di tempat itu, aku tidak hanya membangun bisnis. Aku membangun cerita. Aku bertemu orang-orang yang datang dengan mimpi masing-masing. Ada yang sedang mencari arah. Ada yang sedang lelah. Ada yang hanya ingin ditemani oleh secangkir kopi dan sedikit harapan. Dan tanpa aku sadari… tempat itu juga sedang membangun aku. Ada perasaan-perasaan baru yang aku kenal di sana. Perasaan gagal. Perasaan bangkit. Perasaan takut kehilangan. Dan juga… perasaan percaya yang tumbuh pelan-pelan. Aku belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Tapi itu bukan berarti ia berjalan salah. Kadang, jalan yang tidak kita rencanakan… justru membawa kita ke tempat yang paling kita butuhkan. Jika dulu aku berangkat ke Pare dengan satu tujuan besar -Turki, maka aku pulang dengan sesuatu yang lebih luas: pemahaman tentang hidup. Bahwa mimpi tidak selalu harus berubah bentuk. Tapi cara kita mencapainya… bisa berubah arah. Dan mungkin, Cafe Jendela Mimpi bukanlah tujuan akhir. Tapi ia adalah bagian penting dari perjalanan yang membentuk siapa diriku hari ini. Sekarang aku mengerti… bahwa setiap langkah yang kita ambil, bahkan yang terasa menyimpang sekalipun, selalu punya peran dalam menyusun masa depan kita. Dan kalau aku tidak pernah berani pergi waktu itu, mungkin aku tidak akan pernah menemukan semua ini. Perjalanan itu belum selesai. Tapi dari sana, aku belajar satu hal yang tidak pernah berubah: kadang, kita harus kehilangan arah… untuk benar-benar menemukan jalan.
15 Maret 2014 aku mulai mendirikan Cafe Jendela Mimpi ini, setelah tertunda beberapa bulan karena letusan Gunung Kelud melanda wilayah Kediri. Abu masih menyisakan jejaknya di banyak sudut kota. Udara belum sepenuhnya pulih. Dan suasana masih menyimpan sisa-sisa sunyi dari sesuatu yang pernah mengguncang. Tapi justru di tengah keadaan itu, aku memilih untuk memulai. Bukan karena semuanya sudah siap. Tapi karena aku lelah menunggu waktu yang terasa “sempurna”. Cafe itu tidak langsung menjadi besar. Ia lahir dari hal-hal sederhana, meja yang tidak banyak, tanpa kursi, dan mimpi yang bahkan belum sepenuhnya jelas bentuknya. Tapi aku memberinya satu nama yang sejak awal terasa begitu dekat: Jendela Mimpi. Karena aku percaya, setiap orang butuh satu tempat untuk melihat kemungkinan yang lebih luas dari hidupnya.
Hari-hari awal penuh dengan ketidakpastian. Kadang ramai. Kadang sepi. Kadang penuh tawa. Kadang hanya ditemani suara kipas dan pikiranku sendiri. Ada hari di mana aku bertanya, “apa ini keputusan yang tepat?”. Tapi ada juga hari di mana aku melihat seseorang duduk lama, menatap kosong, lalu tersenyum kecil, dan aku tahu, tempat ini punya makna. Orang-orang datang dan pergi. Membawa cerita masing-masing. Ada yang sedang patah arah. Ada yang sedang mengejar sesuatu. Ada yang hanya ingin berhenti sebentar dari hidup yang terlalu cepat. Dan tanpa aku sadari, aku tidak hanya menjadi pemilik tempat ini, aku menjadi pendengar.
Di sana, aku belajar tentang manusia. Tentang mimpi yang seringkali disimpan diam-diam. Tentang luka yang tidak selalu terlihat. Dan tentang harapan yang selalu mencari jalan untuk tumbuh. Setiap percakapan, setiap pertemuan, setiap senyap, perlahan membentuk sesuatu dalam diriku. Hingga menjadikan Cafe itu bukan sekadar bisnis. Ia menjadi ruang tumbuh. Bukan hanya untuk mereka yang datang, tapi juga untuk diriku sendiri. Di antara aroma kopi dan percakapan sederhana, aku menemukan versi diriku yang lebih tenang. Lebih menerima. Lebih memahami. Dan mungkin, tanpa aku sadari sejak awal, aku tidak benar-benar gagal menuju mimpiku. Aku hanya sedang dibawa ke jalur lain yang tetap mengajarkanku tentang arti mimpi itu sendiri.
Sekarang aku mengerti, bahwa tidak semua yang tertunda adalah kegagalan. Kadang, ia hanya cara hidup untuk memberi kita waktu… agar siap menerima sesuatu yang lebih dalam. Dan dari sebuah awal yang sederhana itu, Cafe Jendela Mimpi tumbuh, bukan hanya sebagai tempat, tapi sebagai bagian dari perjalanan yang membentuk hidupku hari ini.